Beasiswa AAS Part 1: Sekolah S2 lagi

Posted on Posted in Blog, Review

Asli udah lama banget saya nggak pernah nulis blog. Tapi saya mau nulis lagi karena mau banget sharing ke temen-temen semuanya. Bulan lalu saya dapet berita bahwa saya keterima Beasiswa Australia Award Scholarship (AAS) dari Pemerintah Australia, dan untuk S2 saya yang kedua. Post ini akan saya bagi jadi beberapa bagian seperti berikut ini:

Part 1: Sekolah S2 lagi (YOU ARE HERE)
Part 2: Apaan sih AAS tuh? (coming soon)
Part 3: Gimana caranya daftar AAS? (coming soon)
Part 4: Belajar IELTS dalam 10 hari? Bisa, saya buktinya (coming soon)
Part 5: Pre-Departure Training (coming soon)

Sabar, saya yakin di titik ini sebagian pembaca penasaran kok bisa beasiswa buat S2 yang kedua? Nanti dulu..

Sebelumnya saya mau jawab pertanyaan lain yang juga selalu ditanyain orang ke saya, kenapa sih kok S2 lagi? Kenapa nggak langsung S3?

Sebelumnya yang belum tau, saya memang sudah pernah sekolah S2 di Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) di ITB dan melalui program fast track. Program ini mewajibkan saya untuk ambil program master di jurusan dan sekolah dan universitas yang sama ama S1-nya. Mungkin supaya nggak ribet karena program fast track ini kan dimulai bahkan waktu saya mulai masuk ke semester 7 di S1. Artinya, saya belum lulus S1 tapi udah ambil kelas master. Sementara kuliah S1 saya di semester 7 dan 8 kan masih harus tetap dijalanin ya. Kalau saya ambil fast track tapi S2 di UI ya meuni ribed pisan harus bolak-balik Jakarta – Bandung.

Anyway, alasan saya S2 lagi itu yang pertama, saya masih merasa belum cukup ilmu setelah belajar 5 tahun (S1+S2 fast track) di bidang yang sama. Yang kedua, berkat almarhum Pak Johnny Patta, dosen saya di ITB,  saya punya ketertarikan di bidang ekonomi perkotaan. Terutama setelah kerja praktek (KP)/magang bareng sama beliau tahun 2011 dan kita yang KP sama beliau dikasih buku seabreg-abreg soal urban economics, microeconomics and policy, dsb. Tapi sayangnya karena KP itu cepet banget itu buku-buku ya sekedar kita terima, baca-baca sendiri semampunya otak ini nyampe, dan coba kita aplikasikan ke kerjaan KP sebisanya kita. Selesai KP, saya juga sempet mau ambil kelas ekonometrika spasial, tapi sayang karena yang daftar cuma 4 orang akhirnya kelas dibatalkan (nyebelin!). Dan alasan saya yang ketiga, pekerjaan saya sekarang ini adalah peneliti di bidang sosial-ekonomi jadi kemampuan berpikir secara ekonomi harusnya jadi mendasar banget dan harus saya perkuat. Alasan-alasan inilah yang mendorong saya buat ambil sekolah S2 lagi dibanding lanjut S3.

Berikutnya, saya mau jawab yang jadi intinya nih, kok bisa sih dapet beasiswa buat S2 lagi yang kedua kalinya?

Saya juga termasuk yang awalnya skeptis ada beasiswa yang mau membiayai scholar yang berniat S2 untuk kedua kalinya. Kalaupun ada, saya yakin seleksinya akan ketat banget, dan bakal dituntut untuk cerita bahwa, “S2 saya yang kedua ini se-urgent itu loh untuk kalian biayai!”. Tapi sejak lama saya coba cari-cari informasi bahwa sebenarnya beberapa beasiswa memang memberikan kesempatan tersebut.

Yang pertama, dari blognya Pak Made Andi (alumni AAS) saya tau bahwa Australia Awards (AA) membuka kesempatan bagi yang sudah punya gelar master untuk ambil program master yang kedua melalui beasiswa yang mereka tawarkan. Bahkan di blog itu, Pak Made Andi secara jelas menunjukkan klausul yang secara sengaja diubah oleh AA supaya memungkinkan mereka yang mau melamar S2 kedua kalinya bisa ikutan mendaftar.

Yang kedua, Beasiswa Chevening dari pemerintah UK, sependengaran saya dari teman saya Aditya Mahendra yang juga alumni Chevening, memungkinkan pelamar yang sudah punya gelar master untuk apply program master lagi. Sumber informasi ini cukup terpercaya karena teman saya itu sepertinya radical promoter of Chevening Scholarship deh hahaha. Dan saya kenal Adit sebagai orang yang paham apa yang dia omongin. Legit lah!

Yang ketiga, Beasiswa Fulbright dari pemerintah US juga membolehkan pelamar-S2-lagi. Tapi untuk yang ini ada sedikit catatan karena saya ragu. Saya tau informasi ini karena suatu saat saya ketemu dengan beberapa orang yang bekerja untuk Fulbright dan saya tanyakan ke mereka tentang melamar S2 kedua kalinya. Mereka hanya bilang, “coba aplikasinya dimasukin aja dulu..”. Tapi toh nggak ada salahnya buat temen-temen yang lagi hunting S2 (lagi) untuk coba Fulbright. Toh makin banyak peluru yang tertembak makin banyak juga kesempatan dapet hasil buruan!

Nah, kembali lagi soal AAS, ternyata informasi Pak Made Andi terbukti benar! Saya lupa tepatnya kapan, tapi yang pasti di pertengahan tahun 2018, saya dapat kabar bahwa Dhea, teman fast-track saya dulu, teman satu angkatan di PWK ITB baik S1 dan S2 fast-track, ternyata diterima Beasiswa AAS. Berita ini menjadi kabar yang menggembirakan buat saya selain karena dia diterima beasiswa, juga berarti ada kesempatan buat saya untuk mendapat beasiswa yang serupa kan?

Langsung lah saya menjadikan Dhea sebagai guru saya untuk mempersiapkan lamaran beasiswa AAS ini. Dan secara umum jawaban Dhea adalah: siapkan aja secara biasa dan jujur. Artinya semua dokumen dan track record kita dibeberkan secara gamblang dan up-to-date sesuai permintaan dalam formulir. Ternyata kemudian, setelah saya diterima menjadi awardee, pada sebuah sesi informasi dari AA juga dijelaskan bahwa semua informasi personal termasuk latar belakang pendidikan harus di-declare secara jujur karena kalau enggak akan dianggap sebagai fraud. Jika ada awardee yang merasa bahwa dokumennya kurang atau belum dinyatakan saat ia mendaftar sebaiknya disampaikan pada hari pertama ia menjadi awardee. Ini supaya kedepannya nggak ada masalah, dan menghindari judgement bahwa awardee sedang melakukan penipuan.

Secara spesifik bahkan Mbak Reisa Vitti dari AA menggunakan contoh bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, ada seorang awardee PNS yang tidak menyertakan informasi bahwa ia telah memiliki gelar master sebelumnya. Alasannya, pada saat itu si awardee memiliki masalah terkait gelar master yang ia miliki diperoleh dengan biaya sendiri kalau tidak salah bukan termasuk tugas belajar, yang dalam sistem ke-PNS-an hal tersebut tidak dapat diakui. Sorry ya mungkin aja cerita tentang kasus ini saya salah tangkap. Yang pasti, AA meyakinkan bahwa kasus ini hanya dapat diselesaikan dengan awardee menyampaikannya secara tertulis dan menunjukkan inisiatif mandiri. Hal ini sekali lagi untuk menghindarkan dirinya dari dugaan melakukan fraud/penipuan.

Dengan demikian, jelas sudah ya teman-teman, bahwa apakah Beasiswa AAS bisa untuk membiayai program master kita yang kedua? Bisa! Buktinya? Saya, dan teman saya! Sisanya kalau masih ada yang bingung silakan tanya melalui kolom komentar di bawah ini ya! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *