Penerbangan Susi Air dari Cilacap ke Jakarta

Posted on Posted in Uncategorized

Catatan perjalanan kali ini sebenarnya bagian dari cerita yang lebih seru (dan mengerikan). Pasalnya, bisa jadi cerita ini nggak akan pernah bisa ditulis karena malam sebelum penerbangan, saya mengalami gempa hebat 7.3SR ditengah-tengah tidur malam. Tapi alhamdulillah saya selamat dan bisa sharing cerita ini ke teman-teman semua ๐Ÿ™‚ Dan yang spesial dari post kali ini, saya akan kasih beberapa foto 360 derajat yang interaktif bisa diputer-puter sendiri. Cobain deh!

BTW. Selama seminggu di bulan Desember saya kebetulan harus bertugas ke lapangan di Banyumas untuk supervisi rekan kerja yang ada di daerah itu sekaligus meng-update informasi-informasi baru terkait project penelitian UU Desa yang lagi saya kerjain. Waktu saya berangkat, saya pilih naik kereta api dibanding Susi Air. Ini karena 2 hal: airport terdekat itu cuma ada di Cilacap (Bandara Tunggul Wulung) dan/atau Pangandaran (Bandara Nusawiru). Sementara masing-masing jaraknya 2-3 jam dari Purwokerto, Banyumas. Saya pikir saya mau awet-awet tenaga biar mood nggak drop sebelum mulai berjibaku di lapangan (baca: desa lokasi studi). Alasan ke-dua, jadwal Susi Air itu cuma 1x dari Jakarta dan itu pun cuma pagi sekitar jam 9. Kalau penerbangannya aja makan waktu 1 jam, artinya sampai di Cilacap/Pangandaran Tiba sekitar jam 10. Belum perjalanan lagi ke Purwokerto yang bakal bikin saya rugi waktu buat ketemu informan-informan dan orang-orang pemerintahan di daerah.

Nah, kenapa saya pulangnya pilih naik pesawat meskipun harus lewat perjalanan darat dulu? Ya, karena saya pikir udah cukup exhausted juga di lapangan, ada budgetnya, dan jadwalnya lebih enak buat pulang. Masalahnya, di hari terakhir saya di lapangan, kegiatan diskusi dan ndatengin para informan ini makan waktu sampe sore hampir Maghrib. Sementara jadwal kereta api sore terakhir itu jam 4-an sore, dan kereta selanjutnya yang terdekat ke Jakarta dari Purwokerto itu jam setengah 11 malam, berikutnya jam 12an, ada lagi jam 1an malam. Dengan perjalanan kereta ke Jakarta 5 jam dari sana, artinya saya bakal tidur duduk selama itu, datang di Jakarta juga kalo nggak pagi-pagi ya sekitar subuh. Kebayang agak males pegel-pegel dan capeknya. Akhirnya saya pilih pulang naik pesawat meskipun harus nambah nginap 1 malam lagi dan berangkat pagi tapi cepat sampai.

Sebelum memutuskan pergi ke Cilacap, saya pastikan dulu bahwa memang betul masih ada seat penerbangan Susi Air esok harinya. Ya kalau enggak sama aja boong karena naik kereta dari Cilacap bakal worse karena lebih jauh dan lebih lama.

Untuk pesen tiket pesawat Susi Air, sebenarnya bisa lewat website resmi-nya. Tapi sayang (dan heran juga), maskapai sekelas milik menteri yang dikenal profesional itu, websitenya waktu itu hosting/domain-nya lagi expired jadi nggak bisa dibuka. Nah kanal lain yang suprisingly juga cepat responnya itu lewat telepon ke customer service di 08112113080 dan/atau lewat e-mail di callcenter@susiair.com (cepet banget lho mereka balesnya). Pokoknya tinggal sebutin nama lengkap calon penumpang, jumlah seat yang mau dibeli, dan bandara asal-tujuan (karena rute Susi Air itu ada banyak lho se-Indonesia menghubungkan daerah-daerah kecil). Nanti CS akan mengarahkan cara bayarnya, dan kita dikasih waktu 1 jam untuk bayar sebelum akhirnya dikasih e-Ticketnya. Kemarin saya dapet rate-nya itu Rp 1,325 juta.

Setelah dapat tiketnya, baru deh minta driver antar ke Cilacap dan waktu itu saya nginep di Favehotel Cilacap. Untuk cerita kali ini, skip dulu lah ya soal saya ngalamin gempa di sini. Pagi-pagi saya minta resepsionis untuk layanan airport transfer yang mereka banderol Rp 150.000,-. Tapi rupanya ada penghuni hotel yang baru aja berangkat duluan (dan rupanya juga bakal satu pesawat sama saya) jadi mobil mereka habis. Baiknya, mereka terus menawarkan buat panggil taksi rekanan (Cilacap Taxi)–nggak lama kemudian pun saya udah duduk di mobil menuju Bandara Tunggul Wulung – Cilacap. Kocaknya, pas lagi berhenti sebentar di jalan saya liat iklan Mak Erot dipaku di pohon. Saya nanya apa beneran Mak Erot yang asli, eh driver-nya terus nggak selesai kasih nasehat gimana caranya manjangin “anu”, katanya disuruh pijit-pijit sendiri aja setiap hari pakai air atau sabun. Katanya dia udah membuktikan sendiri dan situasi jadi agak awkward karena berusaha keras nggak ngebayangin “keberhasilannya” dia itu. Saya selamat karena temen saya Rafel tiba-tiba nelfon.

Akhirnya, sampai juga di persimpangan tiga masuk ke kawasan bandara dari jalan utama. Papan plang-nya bisa diliat di foto, kecil banget! Kata driver taksi semalam di jalan itu rame banget dan macet orang-orang pada lari menjauh dari pantai karena takut tsunami.

20171216_084947

Begitu sampai di lobby bandara, driver minta dibayar Rp 100.000,- yang lebih murah 50ribu daripada layanan hotel tadi. Lumayanlah meskipun nggak nyalain argo sama sekali dari awal, dan dia sedia kwitansi buat reimburse ke kantor.

Anyway ini dia penampakan airportnya dari luar.

Bagian depan Bandara Tunggul Wulung di Cilacap – Jawa Tengah #theta360 – Spherical Image – RICOH THETA

20171216_091023

Gate masuknya aja super mini banget yah.

20171216_090256

Dan ternyata bandara ini selain melayani penerbangan Susi Air yang cuma sehari 1x terbang aja, ternyata kesibukan utamanya adalah melayani aktivitas sekolah penerbangan. Tepat disamping bangunan terminal bandara ada gedung sekolah penerbangan juga. Jadi sedih karena dulu pernah mau jadi pilot but daddy said no.

Pemeriksaan barang, penimbangan berat barang dan badan bawaan (haha), check-in desk, semuanya dalam 1 ruangan! Abis itu langsung masuk boarding lounge deh. Bandaranya kecil banget tapi decent! #theta360 – Spherical Image – RICOH THETA

Jerohan dari bandara ini ternyata juga nggak kalah mini. Begitu masuk ke dalam isinya ya ada scanner bagasi/barang bawaan, meja check-in (cuma 2) dan langsung pintu masuk ke boarding lounge. Udah gitu aja. Ya bisa dipahami sih buat apa bangun besar-besar karena kebutuhan infrastrukturnya kan cuman segitu ya. Pas saya lapor ke meja check-in, boarding pass saya udah di-print. Dan sebelum saya ngomong apa-apa masnya udah bilang, “Pak Gema, ya?”. Rupanya saya penumpang yang paling terakhir datang. Hahaha. Nah di tempat check-in ini nggak cuma barang aja yang ditimbang, tapi juga berat badan kita! Mohon diperhatikan ya, berat saya nggak sampe segitu lho. Kita harus naik timbangan sambil bawa barang cabin.

20171216_085551

Soal bagasi, ternyata meskipun di tiket tertulis allowance-nya cuma 6kg, ternyata bisa sampe 10kg. Sementara bagasi saya lebih dari 13kg. Akhirnya saya harus bayar excess baggage fee Rp 22.000/kg, not bad–nggak terlalu mahal sih ya. Saya udah takut denger-denger nggak boleh bawa barang kebanyakan takutnya ini tempe-tempe mendoan bakal disuruh tinggalin. Kan kasian rakyat-rakyat di Jakarta yang udah pada nitip haha.

Begitu masuk ke boarding lounge ternyata ada scan barang lagi dan pemeriksaan lagi. Tapi ya di ruangan yang sama sama tempat nunggu itu. Bener-bener deh ini bandaranya mini banget! hehe

Seluruh penumpang dalam 1 pesawat Susi Air yang juga satu-satunya penerbangan di hari itu. Sedikit ya. Boarding lounge sepenuhnya kami kuasai! ? #theta360 – Spherical Image – RICOH THETA

20171216_085907

20171216_091238

20171216_091326

20171216_091218

Meskipun mini, ternyata bandara ini lengkap juga fasilitasnya lho. Bangga deh sama negara ini kalo punya infrastruktur tuh decent kayak begini. Nah, sekitar setengah jam menunggu, ngeliatin pemandangan pesawat-pesawat latihan lalu lalang, akhirnya pesawat Susi Air dari Jakarta mendarat, sekitar 5 menit setelah penumpang turun, kita yang menunggu diperbolehkan naik ke pesawat.

Saatnya boarding! ๐Ÿ™‚ #theta360 – Spherical Image – RICOH THETA

Ayo kita jalan ke pesawatnya! Udah siap tuh! #theta360 – Spherical Image – RICOH THETA

Pesawat ini kapasitasnya 12 penumpang + 2 pilot/co-pilot. Dikit banget kan. Nih dia foto jerohannya pesawat kecilnya Susi Air.

Ya, inilah seluruh penumpang di penerbangan kali ini. Cuma 8 orang dari 12 seat yang tersedia. Tambah 2 lagi sama Pilot dan Co-pilotnya. Suasananya cerah sepanjang perjalanan. Dan karena silau jadi bikin ngantuk. Jakarta here I come! #theta360 – Spherical Image – RICOH THETA

Kalo ditanya rasanya penerbangan naik Susi Air gimana, ya..

  1. Nggak ada pramugari karena memang space di dalam pesawat juga kecil mirip naik angkot/mikrolet
  2. Nggak dikasih makan karena pasti bakal ribet juga makan di dalam
  3. Katanya sih bakalan ada pengarahan keselamatan penerbangan TAPI di luar pesawat sebelum masuk. Tapi pengalaman 2x terbang naik Susi Air nggak pernah dikasih arahan sih, ya baca aja sendiri kartu keselamatan di depan tempat duduk
  4. Karena pesawatnya kecil, jadi tiap pesawat bermanuver/belok misalnya buat menghindari awan-awan tebal ya bakal kerasa banget. Hati-hati aja buat yang gampang mabok perjalanan bakal kerasa banget sih emang
  5. Oiya, pilot dan co-pilot penerbangan Susi Air selama ini gue naik selalu bule!

20171216_09575820171216_095805

20171216_092318

Nah, ini ada video singkat gimana sebenarnya suasananya di dalam penerbangan Susi Air itu.

20171216_094840

Setelah akhirnya sekitar 1 jam perjalanan dilalui, sampai juga deh di Bandara Halim Perdanakusumah di Jakarta Timur. Ada perasaan relieved/lega karena berhasil cabut dari Cilacap yang kena bencana malamnya, tapi sedih juga karena perjalanan ke lapangan itu meskipun agak capek tapi menyenangkan. Semoga postingan kali ini cukup memberikan gambaran ya buat teman-teman yang mau/belum sempat naik maskapai milik menteri kabinet kerja-nya Presiden Jokowi ini hehe.

Akhirnya sampe juga di Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta. Sampe sini ada perasaan relieved tapi masih sedih keingetan kejadian gempa semalam. Kayaknya alam nyambung jadi disambut mendung #itrhymes! Hehe #theta360 – Spherical Image – RICOH THETA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *