Bajawa: Zen di Pulau Flores (Part 1)

Posted on Posted in Traveling, Uncategorized

Perjalanan ini masih bagian dari tugas ke NTT, provinsi paling tenggara di Indonesia. Kalau sebelumnya saya ke Kupang, itu cuma dalam rangka transit aja. Bahkan stay di Kupang-nya nggak sampai 24 jam. Tapi seneng banget karena hotel yang saya tempatin kemarin itu bagus banget, jadi pengalaman tersendiri yang selengkapnya bisa dibaca di sini.

Perjalanan ke Bajawa
Nah, perjalanan yang sebenarnya baru dimulai sekarang. Pagi itu saya siap-siap berangkat ke Bajawa, yang letaknya ada di Pulau Flores, sejak jam 6 pagi. Takut ketinggalan pesawat. Masalahnya memang sejak hari sebelumnya, penyakit langganan setiap tahun a.k.a radang tenggorokan lagi mampir. Mau minum obat paracetamol takut ketiduran. Jadi aja minum tolak angin terus. Driver sewaan pun datang, terlambat, susah dihubungi–yang rupanya dia ngaku setelahnya agak kesiangan bangun. Cuma 5 menit kemudian disupirin dia ternyata udah sampai di Bandara El Tari lagi, padahal udah ketar-ketir banget ketinggalan pesawat.

Kalau kemarin full naik maskapai national flag carrier Indonesia dari Jakarta ke Kupang, hari ini naik Wings Air, Grup Lion Air. Brand ini mengkhususkan diri untuk pesawat-pesawat ATR yang pakai baling-baling. Kapasitas penumpangnya juga lebih sedikit. Pesawat-pesawat kecil kaya begini ini yang jadi penolong warga kepulauan kayak NTT . Pasalnya, pesawat besar biasa bakal nggak menguntungkan secara ekonomis, selain itu secara geografis daerah-daerah kita di Indonesia ini juga bergunung-gunung sehingga pesawat harus bermanuver lewat lembah dan celah gunung. Belum lagi airport-airport kita di daerah pun punya landasan yang pendek. Buat yang penasaran kayak apa pesawat ATR, nih pesawat yang bakal membawa saya terbang ke pulau paling eksotis buat saya sejauh pengalaman traveling seumur hidup.

DSC07203.jpg

DSC07208.jpg

DSC07215.jpg

Dibandingkan sama pesawat besar cem Boeing atau Airbus, pesawat ATR ini kira-kira menampung sekitar 100an penumpang. Biasanya seragam pramugari/a nya juga lebih simpel. Dan keseimbangan beban kanan kiri dan depan belakang pesawat juga diperhatikan. Jangan heran kalau sewaktu-waktu pramugari minta kalian pindah tempat duduk dari yang tertera di boarding pass yah.

Kalau nggak salah perjalanan dari Kupang ke Bajawa ini cuma 1 jam. Meskipun masih agak ngantuk, tapi saking excitednya traveling tugas ke Pulau Flores, saya jadi nggak bisa tidur. Jujur aja, pemandangan ketika masuk ke Pulau Flores itu… mengerikan. Karena bener-bener yang namanya pesawat itu terbang di antara bukit-bukit. Jaraknya sih mungkin aja (mungkin lho ya, pokoknya deket banget!) 1-2km dari ujung sayap pesawat. Tapi jarak segitu saya yakin sih pilot juga deg-degan bawanya. Bener-bener yang namanya manuver tuh kerasa banget!

Begitu mendarat di Bandara Soa (nama kecamatan tempat airport itu berada) “di” Bajawa, bangunannya sederhana banget. Lebih mirip kantor kelurahan. Tapi decent-lah ya.

DSC07221.jpg

DSC07223.jpg

Ini dia jerohannya, nggak ada roda berjalan selayaknya tempat menunggu bagasi. Yang ada cuma meja panjang yang rendah. Disitu nanti petugas bakal teriakin nama-nama pemilik bagasi sesuai boarding pass. Pengalaman yang unik!
Nah, yang agak kocak, penumpang itu nunggu di ruangan yang cuma seukuran kira-kira kayak setengah lapangan badminton. Di luar langsung kaca jendela yang udah ditemplokin sama supir-supir sewaan yang bakal mengantar kita kemana pun kita bilang. Cara mereka nawarin jasanya itu lho, bener-bener rebutan. Jadi risih juga sih sejujurnya. Tapi saya kasih tau aja, lupakan alternatif lain apalagi taksi online. Nggak ada! Ya naik sama mereka aja udah. Tapi mereka baik-baik kok, dan kasih harga yang reasonable. Harganya ini juga bakal lebih murah kalo makin banyak orang yang dimuat di dalam mobil. Kalo kamu sendirian ya berarti kamu bayar kursi-kursi kosong yang harusnya terisi yah. Dan oh iya, baiknya orang Flores itu bisa saya klaim, baik banget semuanya! Meskipun keliatan sangar-sangar ya, hehe. Pokoknya helpful dan ramah dalam artian mau ngajakin kita ngobrol terus gitu.

DSC07228.jpg

DSC07229.jpg
Mau jemput kakak?

DSC07233.jpg

DSC07245.jpg

Selama di jalan kita cuman bakal disuguhi hutan, kebun yang padat, pokoknya serba hijau deh. Jalanan aspalnya kadang mulus banget sampe drivernya bisa ngebut, atau lambat banget karena ada yang rusak. Cukup lama juga sampe saya yang tadinya excited nunggu kejutan apa lagi kira-kira yang bakal muncul di depan mata, akhirnya pasrah duduk di kursi tengah dihimpit sama ibu-ibu dan koko-koko cina yang sibuk telfonan. Ya, gimana lagi, 30 menit dengan jalanan tanpa macet itu artinya cukup jauh jarak antara Bandara Soa dengan Kota Bajawa. Tapi akhirnya ya sampai juga di penginapan yang udah saya book sejak dari Jakarta. Saya jadi penumpang paling akhir yang diantar.

Sampai di Bajawa: Aduh! Salah Bawa Baju…
Bajawa itu ternyata ada di dataran tinggi. Ya jelas sih, waktu mau mendarat aja gunung-gunung itu ada di sekeliling kita. Jadi rasanya tuh kalau mendung dingin banget mirip sama di Puncak, Bogor. Saya nggak bakal ceritain kerjaan saya kayak apa ya, selain confidential juga saya gak mau cerita traveling ini jadi membosankan. Yang pasti siang itu juga saya harus mulai keliling untuk wawancara ke kantor-kantor dinas, kecamatan, dan desa yang saya studi. Sekalian biar nggak buang waktu kebanyakan nunggu partner kerja saya dari World Bank yang belum datang karena mereka pilih pergi ke Bajawa lewat Ende yang transitnya di Denpasar, bukan Kupang dan harus nginap semalam kayak saya. Tapi agak lebih lama mereka jadinya karena dari Ende ke Bajawa harus lanjut naik mobil 4 jam.

Yang menarik, siang itu juga saya pergi ke salah satu desa yang ada di gunung. Persoalannya saya cuma bawa jaket tipis berbahan parasut. Saya pikir yang namanya kota di daerah timur Indonesia itu panas-panas. Duh, mana ujan, dan lagi agak sakit lagi. Pertahanan saya cuman obat-obatan yang saya beli lebay banget waktu di Kupang: procold, imboost, tolak angin, ester-c. Pokoknya semua yang kayaknya bikin sehat saya beli. Pelajaran sih bagi saya next time kalau tugas lagi harus tanya-tanya sama yang udah pernah kesana, atau paling enggak googling dulu!

Tapi rasanya saya lupa sebentar sama kondisi badan yang gak enak. Desa yang saya tuju itu punya pemandangan yang gila banget. Jadi meskipun dia ada di atas gunung, dari tempat kita berdiri ke arah selatan bisa liat pantai juga. Kebayang kan betapa drastisnya gradasi topografi ini pulau.

DSC07317.jpg

DSC07464.jpg

DSC07332.jpgKata peneliti lokal, payung-payung kecil itu tanda adat. Bisa melambangkan sub-suku atau keperluan lainnya.

DSC07394.jpg

Yang bikin perasaan zen banget, tuh selain alamnya, juga anak-anak di Flores. Mereka yang saya temui nggak ada yang pemalu, bahkan nyapa duluan kalau ketemu, “Selamat Siaang!” atau “Halo!”, begitu katanya. Semangat lagi nyapanya!

DSC07329.jpg

DSC07492.jpg

Kuliner di Bajawa? Kopi!
Ngomong-ngomong traveling biasanya juga ngomong kulinernya. Meskipun secara adat masyarakatnya ini cukup kental, rupanya nggak banyak yang khas yang bisa ditemui. Kalau tanya orang setempat paling dijawabnya Se’i, serupa daging dendeng tapi biasanya dibuat dari Babi. Ada sih yang dari Sapi tapi katanya yang terkenal itu ada di Kupang.

Pilihan makanan disini kalo nggak mahal banget ya murah banget. Maklum, Bajawa ini jadi salah satu kota transit buat mereka yang traveling di Pulau Flores dari ujung ke ujung via darat. Banyak bule juga berkeliaran di sini. Flores kan juga nge-host acara Tour de Flores yang mirip sama Tour de France–acara balap sepeda. Selain itu, di Bajawa ini ada pemandian air panas, seminari (semacam pesantren kalau di Islam) Katolik yang kalo nggak salah katanya tertua di Indonesia, juga ada Kampung Bena, yang unik banget buat dikunjungi karena masyarakatnya bener-bener masih hidup di rumah kayu beratap jerami. Dua yang terakhir ini bakalan saya bahas di part 2 yah.

Nah, siang-siang saya sempet makan di warteg. Iya, warteg! Bahkan yang jual ngomong bahasa Jawa. Liat deh di kacanya tulisan Jadi Mulyo. Lain tempat lagi saya coba makan di warung soto ayam, yang jelas-jelas mirip sama yang di Lamongan. Yang jual pun berasal dari Lamongan.
DSC07353.jpg

Dari tempat makan ini saya juga jadi paham, saking terbatasnya pilihan belanja di sini, masyarakat mengandalkan pedagang baju keliling yang kebetulan mangkal di depan. Nggak heran juga jadinya, peneliti lokal yang juga bekerja untuk tim saya, kalau diterbangin ke Jawa buat retreat/update meeting pasti jam bebasnya dipake buat pergi ke mal/pusat belanja. Pulang-pulang bawa tas belanjaan gede banget isinya baju buat anak istrinya.

DSC07352.jpg

Anyway, malam-malam saya pergi makan sama partner penelitian dan peneliti lokal itu. Nggak jauh sih di deket hotel. Tapi cukup unik dan lucu juga interiornya. Rupanya di bagian belakang restoran ini ada guest house-nya juga dan biasa dipake sama bule-bule. Menunya sih nggak ada yang khas, tapi harganya agak di atas standar. Jualannya macem french fries, cordon blue, dan makanan kebaratan yang ditulis dengan spelling yang ngaco-ngaco. Yaudahlah yah, karena tempatnya lucu jadi bisa dimaafin.

DSC07548.jpg

DSC07550.jpg

DSC07551.jpg

DSC07553.jpg

Waktu sarapan di hotel, saya ditanya dulu sama “kakak” di sana, “mau mi goreng, atau roti bakar?”. Tanyanya malu-malu dan lirih banget sampe saya perlu nanya ulang. Ini agak kontras sih sama anak-anak kecil yang ketemu di jalan tadi. Biasanya kakak-kakak (baca: mbak-mbak) emang lebih pemalu di sini. Oiya saya itu nginep di hotel terbesar di Bajawa. Bahkan tempat saya makan roti bakar itu (akhirnya pilih sarapan itu), adalah tempat yang biasa disewa sama pemerintah setempat buat ngadain workshop, meeting, atau pelatihan.

DSC07287.jpg

Nah kalau kamu pernah dengar Kopi Arabika Flores, Bajawa inilah tempatnya (juga sama beberapa lokasi lain di Pulau Flores sih). Di salah satu sudut kota dingin di Flores ini ada salah satu kafe yang juga jadi semacam pusatnya minum kopi. Menunya nggak begitu banyak sih, tapi boleh lah dicoba. Oiya, arabika itu biasanya rasanya agak asem dan ringan. Jadi kalau kamu punya persoalan di lambung sebaiknya harus bersabar ya buat mencicipi minuman ini.

DSC07523.jpg

DSC07506.jpg

Selain kopi, sebenarnya minuman “wajib” kalau berkunjung ke Flores itu ada namanya Sopi. Sebagian orang di situ nyebutnya lain: Moke. Intinya sih sebenarnya arak, warnanya bisa agak putih susu atau jernih banget. Buat yang muslim mungkin nggak bisa nyoba ya karena minuman ini beralkohol. Tapi kalau lagi kumpul-kumpul sama orang setempat biasanya ditawarin sebagai tanda persahabatan.

Bajawa, meskipun sepi tapi…
Kota Bajawa ini memang kecil banget, mungkin cuma segede Rawamangun kalau di Jakarta atau bahkan lebih kecil lagi. Orang sempet pagi-pagi di hari terakhir saya keliling kota Bajawa jalan kaki dari ujung ke ujung juga bisa. Paling cuma sejam itu pun jalan santai banget. Kota ini sepi banget, mungkin yang teramai itu pagi-pagi karena anak-anak serentak pergi ke sekolah. Biasanya bergerombol. Selain di sekitar sekolahan, yang ramai di sini juga pasar. Tapi itu pun nggak se-ramai Mayestik atau Tampur di Jakarta Selatan yang rame banget sampe macet.

DSC07537.jpg

DSC07580.jpg

Di depan hotel juga bahkan sepi banget. Numpang main bulu tangkis bentar juga bisa kali ya.
DSC07583.jpg

DSC07592.jpg

DSC07621.jpg

DSC07626.jpg

DSC07627.jpg

DSC07645.jpg

DSC07649.jpg

DSC07656.jpg

Anak sekolah pagi-pagi mendominasi pemandangan jalanan di Kota Bajawa, dari yang manusia beneran sampe patung kaya di bawah ini. Ngomong-ngomong patung, di kota ini banyaaaak banget hampir di tiap persimpangan ada tugu yang ada patung kecilnya gitu. Ada patung adat, patung anak sekolah, patung mama-anak, patung petani, macem-macem deh!

DSC07659.jpg

Yang ini bukan patung yah, ini sih pak polisi lagi bantuin lalu lintas supaya anak-anak nyebrang jalannya aman.
DSC07660.jpg

DSC07681.jpg

DSC07683.jpg

Jujur aja, meskipun Bajawa itu kotanya sepi, makanannya juga biasa aja, tapi kok ngangenin ya. Ngangenin buat jalan-jalan sih. Kalau harus kerja, stay disini 3 minggu kayak yang udah-udah di Jawa Tengah atau Jambi, hmmm perlu cek ombak dulu sih itu. Hahaha. Yang pasti, saya bisa bilang ini kota ter-zen yang pernah saya datangin selama saya kerja jadi peneliti.

Cerita soal Bajawa masih belum lengkap lho ini tanpa Seminari, dan tanpa Kampung Bena. Postingan ini bakal berlanjut ke Part 2 yang segera bakal saya tulis. Nantikan ya!

2 thoughts on “Bajawa: Zen di Pulau Flores (Part 1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *